Aspek Budaya pada Sistem Informasi


A. Pengetian Budaya 


Secara umum, pengertian budaya adalah mengatur agar manusia bisa mengerti bagaimana seharusnya untuk bertindak, berbuat, menentukan sikap ketika berinteraksi dengan orang lain.

Istilah budaya dari kata culture yang merupakan istilah bahasa asing yang memiliki arti kebudayaan. Kata tersebut berasal dari bahasa latin “colere” yang berarti mengolah atau mengerjakan, yaitu mengolah tanah atau petani.

Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budaya merupakan sebuah pemikiran, adat istiadat atau akal budi. Secara tata bahasa, arti atau makna dari kebudayaan diturunkan dari kata budaya dimana cenderung kearah cara berpikir manusia.

Selain pengertian budaya secara umum, ada juga pengertian budaya menurut para ahli, diantara tokoh yang sangat familiar yaitu tokoh yang dikenal sebagai bapak pendidikan yaitu Ki Hajar Dewantara yang mengatakan ; bahwa pengertian kebudayaan adalah buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertip dan damai. 

Ciri-ciri kebudayaan 

Kebudayaan merupakan budaya sendiri yang berada di daerah tersebut dan dipelajari.
Bisa disampaikan kepada setiap orang dan setiap kelompok serta bisa diwariskan dari setiap generasi.
Bersifat dinamis, artinya suatu sistem yang dapat berubah sepanjang waktu atau mengikuti perkembangan zaman.
Bersifat selektif, artinya mencerminkan pola perilaku pengalaman manusia secara terbatas.
Memiliki unsur budaya dan saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Etnosentrik, yang artinya menganggap budaya sendiri sebagai budaya terbaik atau menganggap budaya orang lain sebagai budaya standar.
Selain ciri-ciri yang disebutkan di atas, Budaya juga mempunyai unsur, unsur yang paling mempunyai korelasi dengan teknologi pada saat ini unsur yang dimaksud adalah

Sistem Peralatan Hidup dan Teknologi
Yang dimaksud dengan teknologi adalah jumlah dari semua teknik yang dimiliki oleh para anggota dalam suatu masyarakat yang meliputi cara bertindak dan berbuat dalam mengelola dan mengumpulkan bahan-bahan mentah.

Kemudian bahan tersebut dijadikan sebagai alat kerja, penyimpanan, pakaian, perumahan, alat transportasi, dan kebutuhan hidup lainnya yang berupa material.

Unsur teknologi yang sangat menonjol adalah kebudayaan fisik yang meliputi alat produksi, senjata, wadah, makanan dan minuman, pakaian, perhiasan, tempat tinggal, perumahan, dan alat-alat transportasi.

Lalu meneliti hubungan antara budaya dengan Teknologi dan sistem informasi, didapatkan Aspek yang meluas dalam general. 

B. Aspek Budaya Pada Sistem Informasi


Lamb dan Kling [4] berargumen bahwa salah satu aktor terpenting dalam SI adalah pengguna (user). Dengan demikian, penelitian seputar pengguna (user-centered research) di dalam SI akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam optimasi manfaat TI. Pengguna itu sendiri memiliki 4 atribut, yaitu afiliasi, lingkungan, interaksi, dan identitas.

Di sisi lain, Alexander [5] menjelaskan bahwa, “ ... every social object can be analyzed as a cultural object, every social culture as culture structure. Events, actors, roles, groups, and institutions, as elements in concrete society, are part of social system; they are simultaneously, however, part of a cultural system ... Culture is an environment of every action .. Cultural codes, like linguistic languages, are built upon signs, which contain both signifier and signified. Technology, for example, is not only a thing, a signified object to which others refer, it is also a signifier, a signal, an internal expectations ... Analytically, however, technology is also part of cultural system. It is a sign, both a signifier and signified, in relation to which actors cannot entirely seperate their subjective states of mind”.
Jika dianalisis lebih lanjut, keempat komponen yang diuraikan oleh Lamb dan Kling di atas, sangat relevan dengan definisi budaya yang diajukan oleh Alexander. Pengguna TI adalah aktor dalam suatu sistem yang disebut SI. Sementara itu, menurut argumen Alexander, teknologi (termasuk TI tentunya) juga termasuk ke dalam sistem budaya. Argumen Lamb dan Kling, serta Alexander, jika disintesakan akan membawa kita kepada kesimpulan bahwa TI (dalam lingkup yang lebih luas adalah SI) adalah suatu bagian dari sistem budaya, dan pasti juga sangat dipengaruhi oleh komponen dan norma budaya.

Misalnya, user-centered research dalam SI sebenarnya adalah riset mengenai budaya, karena sesuai dengan argumen Alexander, “actors cannot seperate their subjective states of mind”, dan itu adalah suatu komponen budaya.

TI atau dalam ruang lingkup yang lebih luas, SI, adalah suatu sistem budaya. Hal ini menyebabkan optimalisasi penggunaan TI juga sangat ditentukan oleh aspek budaya. Dengan demikian, riset mengenai aspek budaya dalam SI atau TI menjadi penting.
Aspek budaya dalam SI atau TI dapat dikategorikan atas 4 kelompok, yaitu budaya sebagai input, budaya sebagai proses, budaya sebagai dampak, serta budaya sebagai akselerator.
Umumnya penelitian mengenai aspek budaya pada SI atau TI masih menggunakan pendekatan empiris atau positivistik yang kuantitatif. Masih sedikit penelitian yang menggunakan pendekatan interpretif, apalagi critical theory. Ini sesuai dengan kondisi yang digambarkan Klein bahwa pendekatan interpretif masih belum sepenuhnya diterima sebagai pendekatan ilmiah dalam penelitian. Sementara itu, critical theory masih berada di dalam ranah ilmu sosial atau budaya murni, belum banyak diadopsi di ranah SI.


Comments